#PaulArden
#PaulArden
Lagi bersih-bersih Hp nemu ginian dong.. #ngakak
Tiny elf dancing a menny little jig
The moments that take your breath away - The Hitch
“Aku seperti memiliki kelainan. Aku selalu iri dengan saudara kembarku sendiri, selalu berusaha untuk merebut apa yang dimilikinya. Hingga akhirnya, apa yang menjadi miliknya tidak bisa juga menjadi milikku juga. Dan aku merasa sakit, merasa menyesal karena telah merusak semuanya… Aku perlu disembuhkan.. Aku tidak mau terus-terusan menyakiti saudara kembarku tanpa sepengetahuannya…” Shila.
Shasha menarik nafasnya dalam-dalam, air mata tidak dibiarkannya menetes, pantang. Undangan berwarna coklat bertuliskan nama Arga dan Medina, diletakkannya di tong sampah dengan lembut.
Shasha masih tidak habis fikir dengan ke-abstrak-an yang terjadi saat Ia tiba di Jakarta bersama Dylan. Arga yang tahu-tahu akan menikah seminggu setelah Ia tiba, Shila yang ternyata mendapatkan pekerjaan mendesain sebuah gedung di Melbourne dan ternyata sudah pindah seminggu yang lalu tanpa memberitahu Shasha. Hanya orang tuanya saja yang masih sama, tidak ada kejutan, masih sama-sama sibuk tidak ada waktu untuk anak perempuan mereka.
Shasha merasa seperti sedang berjalan disebuah ruangan berdinding layar besar yang memutar video-video kenangannya bersama Arga dengan lantai kerikil tajam. Sakit. Tetapi toh Shasha harus tetap berjalan melewati kerikil tajam tersebut sampai ke pintu keluar.
*
Dylan duduk di ruang tamu rumah Shasha, kemudian tidak beberapa lama, Shasha turun dari lantai dua rumahnya.
Shasha terlihat sangat anggun, memakai kebaya berwarna coklat tua dengan kerah sabrina, dan celana panjang berwarna hitam. Shasha menyanggul sederhana rambutnya, dan tersenyum memandang Dylan.
“Cantik banget, Nona Shasha…” Puji Dylan.
Shasha memaksakan tersenyum, suasana hatinya saat ini lebih sedih dibandingkan saat Ia membuang begitu saja White Truffle yang disajikan disalah satu makanannya pada saat Ia menghadiri meeting di Paris. Lebih sedih dibandingkan saat Ia harus kedinginan dan sendirian di Boston, dan sepertinya jauh lebih sedih saat Ia dan Shila bertengkar karena Dylan dahulu.
Mereka berdua memasuki mobil, Shasha memberi arahan jalan kepada Dylan yang sedaritadi berusaha keras membuat Shasha tersenyum dan tertawa. Hingga sampai pada satu topik pembicaraan dimana Dylan bertanya mereka akan menghadiri pernikahan siapa.
Shasha tersenyum sakit, kemudian menyuruh Dylan tunggu saja sampai mereka tiba di tempat resepsi.
*
Shasha menuliskan namanya di buku tamu, menarik nafas panjang, melangkah ke depan pintu masuk ballroom. Ia menegakkan kepalanya, mengembangkan senyum mantap sambil memandang Dylan dengan penuh arti.
Dylan akhirnya tahu, itu pernikahan Arga. Dylan memilih untuk tidak membahas ataupun menanyakan sedikitpun mengenai pernikahan ini kepada Shasha, karena Dylan tahu betapa sakitnya Shasha saat ini.
Dylan menggenggam tangan Shasha, Shasha merasa kuat. Merasa ada yang menopangnya saat ini. Shasha tidak merasa sendiri. Shasha dan Dylan melangkah dengan mantap keatas pelaminan dan memberikan selamat kepada Arga dan istrinya.
“Selamat menempuh hidup baru, Dirgantara”
“Semoga kamu bahagia dengan Dylan ya, Shasha”
************************
Terlalu pagi~ #nofilter #morning #skies
Touch the skies, can we?
berjalan berdarah menginjak kerikil tajam guna keluar dari ruangan yang isinya penuh dengan kotak hitam yang terus memutar video, sementara jelas bahwa diluar sana sang artis sedang menikmati indahnya dunia yang sedang dituju sekarang itu benar-benar luar biasa…
menyakitkan
Bawa 1 map ijazah dari TK sampe lulus kuliah ke kantor itu bukan ide yang bagus.. Endingnya pas gabut ngakak sendiri liat muka abstrak! Oh ages.. #selfportrait